Rabu, 03 Januari 2018

Syarat Sukses Mencari Ilmu

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

SYARAT SUKSES MENUNTUT ILMU AGAMA

Sebagaimana yang disampaikan oleh al Imam asy Syafi’I dalam sya’irnya, beliau mengatakan :

أخي لن تنال العلم إلا بستة     *     سأنبيك عن تفصيلها ببيان
ذكاء وحرص واجتهاد وبلغة    *      وصحبة أستاذ وطول زمنان

“saudaraku, engkau tidak akan pernah mendapatkan ilmu kecuali dengan 6 perkara, aku akan memberitahukanmu secara terperinci yaitu: Kecerdasan, Keinginan yang kuat, Kesungguhan/Semangat, Bekal, Bimbingan seorang guru, dan Waktu yang panjang.”

Ke enam syarat yang disebutkan oleh al Imam Syafi’i tersebut adalah perkara yang mesti dimiliki oleh seorang penuntut ilmu agama jika ingin sukses di dalam mendapatkan ilmu tersebut.

1. Kecerdasan (ذكاء)

Kecerdasan ada yang berupa bawaan, yaitu memang sudah Allah tetapkan baginya sejak lahir. Dan ada pula kecerdasan yang mesti diusahakan oleh seseorang, yaitu dengan cara berdo’a memohon hal tersebut kepada Allah, sering bermuamalah dengan al Qur’an (membacanya/mentadaburinya/menghafalnya) karena salah satu keberkahan dari al Qur’an adalah meningkatkan kecerdasan seseorang.

2. Keinginan yang Kuat (حرص)

Ketamakan akan ‘ilmu agama, betul-betul menginginkan ilmu tersebut dan keinginan kuat tersebut akan memberikan tenaga yang sangat besar bagi seorang penunutut ilmu agar mendapatkan apa yang ia inginkan, dan dengan keinginan yang kuat juga ia membuat target misalnya setiap hari dia harus membaca buku selama 2 jam. Maka dengan keinginan kuat tersebut lahirlah syarat yang ketiga yaitu Kesungguhan.

3. Kesungguhan (اجتهاد)

Ada dua perkara yang membuat seorang hamba tidak akan pernah kenyang. Yaitu Ilmu dan Harta, seorang penuntut ilmu akan merasa semakin dia mendapatkan ilmu maka ia semakin merasa bahwa dirinya itu bodoh dan dengan sebab itu maka ia akan semakin bersungguh-sungguh untuk terus mencari ilmu.

4. Bekal (بلغة)

Yang dengannya kita membeli peralatan untuk menunjang kita dalam menuntut ilmu agama. Misalnya, pena dan buku untuk mencatat, mengeluarkan biaya untuk kendaraan ketika menghadiri majelis, dan hal-hal lainnya yang dikeluarkan untuk menunjang kita dalam menuntut ilmu agama. Sebagaimana para ulama-ulama terdahulu yang mengorbankan banyak hartanya untuk melakukan perjalanan dalam menuntut ilmu.

5. Bimbingan seorang guru/senantiasa bersama ustadz (صحبة أستاذ)

Kalimat tersebut mengandung dua faedah yang sangat penting. Yang pertama adalah bahwa dalam menuntut ilmu agama mestilah ada seorang guru yang membimbingnya dan kita wajib menghadiri majelis yang disitu dikaji ilmu dari seorang guru yang lurus keilmuanya (sesuai al Qur’an dan Sunnah). Faedah yang kedua yaitu ketika kita telah memiliki seorang guru maka wajib bagi seorang penuntut ilmu untuk menjaga adab-adab terhadap gurunya.

6. Waktu yang lama (طول زمنان)

Sejatinya menuntut ilmu adalah sampai kita mati. Al Imam Abu Hanifah pernah ditanya oleh muridnya karena kebiasaannya yaitu membawa tempat tinta kemanapun ia pergi, sang murid bertanya “sampai kapan engkau membawa tempat tinta tersebut?” sang Imam menjawab “aku akan membawanya sampai ke Kubur”. Dari situ kita bisa mengambil pelajaran bahwasannya memang menuntut ilmu itu sampai kita mati, dan kita berharap bisa mati dalam keadaan beribadah kepada Allah karena menuntut ilmu merupakan bagian dari ibadah kepada Allah ﷻ dan dalam menuntut ilmu agama ini dibutuhkan kesabaran yang besar. Sebagaimana dalam surat al ashr ketika Allah ﷻ menjelaskan tentang orang-orang yang tidak merugi yaitu orang-orang yang beriman, beramal shalih, mengajak kepada yang baik dan mengajak pada kesabaran. Orang yang beriman pastilah ia berilmu, karena tidak mungkin ia beriman tanpa ilmu dan ilmu tidak mungkin didapat kecuali dengan belajar sebagaimana sabda rasul ﷺ :

إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ

“sesungguhnya ilmu didapat dengan belajar” [HR. Ath Thabrani]

Kemudian ilmu yang didapat itu ia amalkan, dengan ilmu tersebut ia saling berwasiat kepada kebenaran, dan dengan ilmu tersebut ia saling berwasiat kepada kesabaran, karena untuk mengamalkan ilmu dan mendakwahkannya juga perlu kesabaran maka dari itu hendaklah kita saling berwasiat kepada kesabaran.

[Dimurojaah dari Materi Muqoddimah Audio ke-7 Halaqoh Belajar Islam Angkatan 2 bersama al Ustadz Abu Sumayyah Beni Sarbeni, Lc hafizhohullah.]

Rabu, 01 Rabiul Akhir 1439 H / 20 Desember 2017

🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿

Tidak ada komentar:

Posting Komentar